Curug Semirang, Kabupaten Semarang

14 Februari 2015

Hari ini cuaca di Kota Semarang cukup cerah dan sayang dilewatkan kalau di rumah. Saya putuskan untuk keluar dan melakukan jalan-jalan non-urban di Kabupaten Semarang. Segera saja saya jemput partner jalan terbaik untuk outdoor si Danang Anggit Wijaya. Kami memutuskan untuk ke Curug Semirang yang berlokasi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat.

Curug Semirang dikelola oleh Perum Perhutani KBM JLPL Unit 1 Jawa Tengah, lokasinya cukup mudah dijangkau dengan sepeda motor atau mobil. Dari arah Ungaran menuju Yogyakarta kita belok kanan saja sebelum gapura perbatasan “selamat jalan Kabupaten Ungaran”, ada papan petunjuk arah Curug Semirang atau jalan masuk akademi kebidanan Ngudi Waluyo. Dari Akbid Ngudi Waluyo kira-kira 400 meter kita melewati jembatan dan langsung belok ke kiri setelah jembatan itu, ikuti papan petunjuk menuju Curug Semirang.

Curug di kaki Gunung Ungaran ini menjadi satu lokasi dengan perkebunan buah pala atau biasa dikenal Kebon Polo. Kebon Polo adalah lokasi perkemahan yang hip banget pas jaman-jaman saya SMP dan SMA buat kegiatan pramuka dan paskibra. Perkebunan ini sudah ada sejak jaman Belanda, bekas-bekas jalan batu perkebunan untuk mengangkut buah pala masih eksis untuk dijelajahi.

Kami sampai di Curug Semirang pukul 14.30, hujan cukup deras sehingga saya dan Anggit memutuskan untuk tetap memakai jas hujan. Hari itu saya benar-benar salah outfit, celana jeans+jaket outdoor+sepatu crocs yang gundul+jas hujan L sepanjang jalan si Anggit cuma bisa ketawa gara-gara saya kepanasan tapi jas hujan ngga bisa dilepas karena hujan masih turun lumayan deras.

Lokasi parkir dan loket tiket lumayan dekat, cukup bayar Rp 5.000,00 per orang untuk masuk ke curug. Hari itu saya lagi random dan baru sadar lupa bawa dompet waktu mau beli minum T.T. Saya menggantungkan hidup saya di tangan Anggit dari berangkat sampai pulang..hahahaha. Buat temen-temen yang lupa bawa bekal tenang saja, ada warung-warung kecil di dekat loket tiket bahkan di atas curug! Jadi kita masih bisa makan gorengan dan minum teh anget sampai diatas curug.

Jarak dari loket tiket ke curug kurang lebih 950 meter dengan medan yang menanjak dan sedikit sekali “bonus” jalan datar. Kalau kata Anggit sih medan ini gampang dan bersahabat (iye secara dia anak gunung, buat saya yang newbie enggak gampang!), jalan santai 30 menit bisa nyampe ke curug itu. Jalanan masih alami dari tanah dan batu dengan variasi lebar 0,5 sampai 2 meter, kita harus cukup waspada biar ngga kepleset atau jatuh (soalnya sebelahnya ada jurang dalem, lumayan kalau jatoh, saya belum kawin..hahaha).

Sepanjang jalan menuju curug kita disuguhkan pemandangan alami hutan heterogen dan suara tonggeret (cicada) hutan, hmmm! Bener-bener bisa melepas lelah dari kerjaan dan rutinitas urban. Kita melintasi sungai kecil di tengah perjalanan, ini menandakan sudah setengah jalan menuju curug. Sungai kecil ini bonus buat kita rendem-rendem kaki sebentar (padahal alesan saja ke Anggit supaya bisa istirahat, hahaha). 


sungai kecil di tengah perjalanan menuju curug

FYI kamar mandi di perjalanan menuju curug cuma ada satu sebelum sungai kecil, kondisinya memprihatinkan dan bikin saya ngga pengen pipis disitu. Kalau mau ke kamar mandi agak bersih bisa numpang di rumah warga yang dekat parkiran atau kalau bapak penjaga tiket baik, pinjem saja kamar mandi yang ada di lokasi tiket.

Track setelah sungai kecil baru bener-bener menantang (garis bawah, buat saya!). Lebar jalan 0,5 meter ngga nyampe, seperti anak tangga yang sengaja dibuat untuk memudahkan naik. Kurang lebih 15 menit akhirnya sampai juga!!! Subhanallah cantik banget, walaupun curug ini kecil tapi cukup tinggi, mungkin lebih dari 10 meter (saya ngga bawa meteran survey dan ilmu kira-kira saya ngga jelas...hahaha). Anggit bilang sepertinya keputusan tepat datang pas musim hujan, debit air curug lebih banyak dibanding musim kemarau. 

Saya lepas-lepas jas hujan di salah satu warung dekat curug, kamera saya pasrahin ke Anggit yang memang yahud ambil angle-angle foto, nambah selfie-selfie dikit lah...maklum anak muda :D. Sore itu curug lumayan sepi, ada dua real couple dan satu couple pria-pria jalan berdua (saya agak surprise, khusnudzon mereka adalah sahabat yang sangat dekat...hahaha). Anggit happy karena ngga banyak pengunjung jadi frame kita bersih dari kerumunan orang-orang.


Selfie dulu
Curug Semirang
Setelah 30 menit diatas, ngeteh dan foto-foto, pukul 16.00 kita putuskan turun. Perlu diinget ngga ada lampu dan jangan kesorean turun dari curug, kalau saya yang sensitif sih agak serem ;). Kita turun bersamaan ibu-ibu penjaga warung curug, stamina mereka oke banget dengan umur segitu. Anggit bilang jangan sampai saya kalah, mereka saja bisa setiap hari ngelewatin medan itu untuk sesuap nasi, jadi terharu :’).

Saya adalah orang yang sangat jarang olahraga (red: ngga pernah), jadi fisik saya kaget waktu jalan naik ke curug. Jantung berdebar dan pusing setelah 500 meter, Anggit bersabar sambil ketawa evil untuk nunggu saya berhenti tiap 20 meter. Tips dari Anggit yang saya dapatkan selama naik curug antara lain:
  1. Bawa air putih dan hanya minum sedikit-sedikit saja kalau sudah kerasa haus. Kalau langsung minum banyak glek-glek jadinya mual (sudah saya buktikan sendiri).
  2. Usahakan bawa bekal manis-manis kaya coklat atau roti buat tambahan energi.
  3. Kalau kita capek ya berhenti saja, bilang sama partner, ngga usah sok kuat memaksakan diri. Diusahakan posisi saat istirahat kita tetep berdiri dan kalau duduk ngelurusin kaki biar ngga varises.
  4. Buat yang pacaran kalau bisa ngga usah gandengan. Selain lebih lama, kita akan ngerasa berat buat jalan dan ngga nyaman untuk kondisi jalan sempit dan menanjak.
  5. Tips ketika kita jalan menurun gunakan otot paha dan betis, kaki kanan dan kiri bergantian. Minimalkan menuruni anak tangga dengan beban di lutut biar ngga cedera (saya salah praktek jadi jalan kayak orang habis sunat, Anggit cuma ketawa-ketawa di belakang saya, sigh).
Sampai sini yang bisa saya ceritakan untuk edisi jalan non-urban kali ini. Tetep inget ngga buang sampah sembarangan dan jangan jahil meninggalkan jejak-jejak kita di alam Indonesia yang super cantik. Sampai ketemu di cerita berikutnya.


P.S. Curug = air terjun

Big thanks to Danang Anggit Wijaya yang sabar nemenin saat saya random :D

Komentar

Postingan Populer